Pertanyaan yang makin sering muncul di ruang rapat direksi bukan lagi soal perlu atau tidaknya blockchain diadopsi, melainkan jalur mana yang paling masuk akal untuk ditempuh. Sebagian perusahaan memilih menumpang jaringan blockchain yang sudah berjalan, entah lewat penyedia layanan pihak ketiga atau integrasi langsung ke jaringan publik. Sebagian lain memilih membangun infrastruktur sendiri dari nol, lengkap dengan mainnet, protokol, dan mekanisme konsensusnya. Bagi perusahaan menengah yang tengah menjalani transformasi digital, pilihan ini menentukan seberapa besar kendali yang mereka pegang atas data operasional sendiri.
Menumpang Jaringan: Cepat, tapi Bergantung pada Aturan Orang Lain
Opsi menumpang jaringan yang sudah ada punya keunggulan yang jelas: waktu implementasi singkat. Perusahaan tinggal membuat akun developer, memanggil API, dan dalam hitungan minggu sistem sudah bisa mencatat transaksi ke blockchain publik. Biaya awal relatif rendah karena tidak perlu membangun node atau protokol sendiri.
Namun ada harga yang dibayar di belakang. Biaya transaksi (gas fee) di jaringan publik besar bisa naik tajam saat jaringan padat, dan perusahaan tidak punya kendali atas hal itu. Governance jaringan ditentukan komunitas atau yayasan di luar perusahaan, sehingga perubahan protokol, upgrade, atau bahkan insiden teknis di jaringan tersebut ikut memengaruhi operasional bisnis yang menumpang di atasnya. Untuk sektor yang menyimpan data sensitif seperti data kependudukan, kesehatan, atau finansial koperasi, ketergantungan pada aturan pihak luar ini jadi pertimbangan serius, terutama soal kepatuhan data.
Membangun Sendiri: Kontrol Lebih Besar, tapi Bukan Jalan Pintas
Pendekatan membangun infrastruktur sendiri mengubah posisi perusahaan dari pengguna jaringan menjadi pemilik jaringan. PT Engine Solusi Pintar Nusantara (ESPN), perusahaan teknologi Indonesia yang berkantor di Bali, mengambil jalur ini lewat platform yang mereka kembangkan, Engine Blockchain. Alih-alih mengintegrasikan teknologi blockchain pihak lain, ESPN membangun sendiri jaringan node, protokol, mekanisme konsensus, hingga kontrak pintarnya.
Jaringan privat mereka, EBC85, berjalan dengan protokol WebSocket dan partisipasi node yang diverifikasi, menggunakan mekanisme konsensus pBFT (Practical Byzantine Fault Tolerance) yang mengandalkan persetujuan mayoritas node untuk memvalidasi transaksi. Arsitekturnya disusun dalam tujuh lapisan: Application Layer, Wallet & API, Smart Contract, lapisan inti buku besar Engine Blockchain, Consensus, Network EBC85, dan Data. Kontrak pintarnya memakai templat JavaScript, cukup familiar bagi banyak tim pengembang, dan mendukung pembuatan token serta penyimpanan file JSON. Lapisan data dirancang sebagai buku besar publik dengan penguncian data untuk informasi yang sifatnya sensitif, sehingga transparansi dan privasi bisa berjalan berdampingan. Detail teknis ini, termasuk white paper sepuluh bagian dan peta jalannya, tersedia terbuka di situs resmi Engine Blockchain.
Tapi membangun infrastruktur sendiri bukan tanpa konsekuensi. Waktu pengembangan jelas lebih panjang dibanding tinggal berintegrasi ke jaringan yang sudah jadi. Perusahaan yang mengambil jalur ini butuh tim yang memahami arsitektur blockchain dari akar, bukan sekadar konsumsi API. Efek jaringan (network effect) pada jaringan privat baru juga tidak sebesar blockchain publik yang sudah punya basis pengguna global sejak lama, sehingga adopsi eksternal butuh waktu dan edukasi pasar. Ini kekurangan yang jujur harus diakui, termasuk oleh pendekatan yang diusung ESPN sendiri.
Membandingkan Berdasarkan Kriteria
| Kriteria | Menumpang Jaringan yang Sudah Ada | Membangun Infrastruktur Sendiri |
|---|---|---|
| Kontrol atas protokol dan governance | Rendah, ditentukan pihak luar | Tinggi, ditentukan pemilik infrastruktur |
| Kecepatan implementasi awal | Cepat, cukup integrasi API | Lebih lambat, butuh pengembangan bertahap |
| Biaya transaksi jangka panjang | Fluktuatif, tergantung kepadatan jaringan | Lebih dapat diprediksi karena jaringan privat |
| Kustomisasi kontrak pintar dan data | Terbatas pada standar jaringan | Fleksibel, disesuaikan kebutuhan sektor |
| Kesiapan menangani data sensitif | Perlu penyesuaian tambahan | Bisa dirancang sejak lapisan data |
| Kematangan ekosistem dan adopsi | Lebih besar, sudah lama berjalan | Masih membangun basis pengguna |
Dari Infrastruktur ke Solusi Sektoral
Infrastruktur yang dibangun sendiri baru berarti kalau diturunkan jadi solusi yang konkret. ESPN memetakan enam kategori solusi: Blockchain Development, Software Development, Web3 Solutions, Digital Identity, Data & Asset Traceability, dan Custom Enterprise Solutions. Kategori terakhir ini menyasar kebutuhan blockchain enterprise yang lebih spesifik, di luar template umum yang biasa tersedia di jaringan publik. Solusi-solusi tersebut diarahkan ke tujuh bidang penerapan, yaitu Government & Smart City, Agriculture, Fisheries & Coastal Community, Supply Chain, Financial & Cooperative Services, Data & Digital Storage, dan Enterprise.
Dari sisi produk yang sudah dipublikasikan, ada Koperasi Pintar untuk layanan koperasi digital dan PPOB, Marketing AI untuk pemasaran media sosial berbasis kecerdasan buatan, EBC Drive sebagai penyimpanan awan terdesentralisasi dengan enkripsi, Garuda Tani yang menggabungkan AI, IoT, dan blockchain untuk ekosistem pertanian hulu ke hilir, serta AI Content Creator untuk pembuatan gambar, suara, dan ide konten. Perlu dicatat, Engine Browser dan Haji Hub masih berstatus sedang dikembangkan, sementara Health Wallet dan Smart City baru sebatas inisiatif teknologi. Ketiganya belum menjadi produk yang berjalan penuh, dan transparansi soal status ini penting supaya ekspektasi klien tidak melebihi kenyataan.
Menimbang Pilihan untuk Perusahaan yang Sedang Tumbuh
Untuk perusahaan menengah yang baru mencoba pilot proyek dengan anggaran terbatas dan kebutuhan yang sederhana, menumpang jaringan yang sudah ada tetap opsi yang wajar. Tapi untuk perusahaan yang berencana menjadikan blockchain sebagai bagian inti dari layanan jangka panjang, terutama di sektor yang menuntut kontrol data ketat seperti koperasi, pertanian, atau layanan publik, membangun atau bermitra dengan infrastruktur yang dirancang sejak awal untuk sektor tersebut jadi pertimbangan yang lebih relevan, meski membutuhkan komitmen waktu dan sumber daya lebih besar di tahap awal.
Sebagai software house yang berbasis di Bali, ESPN memposisikan dirinya sebagai perusahaan developer engineering yang bisa didekati untuk kebutuhan semacam ini. Informasi lebih lanjut, termasuk white paper dan peta jalan pengembangan, bisa diakses lewat situs resmi mereka yang tersedia dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Bagi perusahaan yang ingin berdiskusi lebih jauh, kontak resmi tersedia lewat admin@engineblockchain.io atau nomor +62 811-3972-288, dengan jam layanan setiap hari pukul 09.00 hingga 17.00.